Editors' Spotlight

Antisipasi lonjakan permintaan ternak kurban selama idul fitri dan idul adha

Peneliti UGM Mengembangkan Pakan Hijau Bernutrisi Tinggi dan Terjangkau untuk Meningkatkan Produktivitas Ternak


Sebuah tim peneliti dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Ilmu Peternakan UGM) telah meluncurkan produk pakan hijau berdaya hasil tinggi dan bernutrisi tinggi dengan harga terjangkau untuk mendukung produktivitas ternak di Indonesia.

Melalui Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura (HMTP), tim tersebut telah mengembangkan tiga produk pakan hijau inovatif, yaitu legum Alfalfa Tropis (Medicago sativa) dengan Nomor Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) 929/PPVT/2021, rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan Nomor PVT 889/PVHP/2020, dan sawi putih (Cichorium intybus), yang saat ini sedang dalam proses pendaftaran PVT.

Profesor Nafiatul Umami, anggota tim peneliti, menjelaskan bahwa sebagian besar produk penelitian yang dikembangkan di Laboratorium HMTP berfokus pada pakan ruminansia. Meskipun demikian, tim tersebut juga telah meneliti pakan unggas.

“Alfalfa tropis dan sawi putih dapat digunakan tidak hanya untuk ruminansia tetapi juga untuk unggas,” katanya pada Kamis (15 Januari).

Sementara itu, Profesor Bambang Suhartanto, yang juga hadir pada acara tersebut, menilai bahwa sistem produksi ternak di Indonesia tidak efisien.

Menurutnya, sistem tersebut bahkan berbiaya tinggi karena sifatnya yang intensif, dengan pakan yang diberikan secara penuh. Bahkan, ia berpendapat bahwa sistem produksi ternak yang efisien seharusnya berbasis penggembalaan.

Ia lebih lanjut mencatat bahwa Indonesia belum memiliki kebijakan yang menetapkan lahan penggembalaan khusus, seperti yang terjadi di negara-negara seperti Australia.

Namun, Indonesia memiliki berbagai jenis lahan yang berpotensi digunakan sebagai lahan penggembalaan melalui sistem terpadu.

“Integrasi kelapa sawit dan ternak saja menawarkan potensi lahan lebih dari 15 juta hektar, begitu pula jenis perkebunan lain dengan ternak yang sesuai, dan bahkan integrasi dengan peternakan lebah. Laboratorium HMTP tidak hanya memiliki para ahli dalam mengintegrasikan ternak besar dengan perkebunan, tetapi juga spesialis dalam peternakan lebah,” kata Profesor Suhartanto.

Sumber : UGM